Siapa Sangka? Nokia Awalnya Tidak Produksi Ponsel, Tapi Tisu Toilet?!
byMichelle Fransisca-
14
FUNTECHNET - Siapa yang tidak kenal dengan brand Nokia, salah satu brand legend yang sudah ada 160 tahun yang lalu. Ketika mendengar brand ini, pasti kita langsung terpikirkan pada produk mereka yang terkenal dengan image "tahan banting". Namun, tahukah kamu? Jauh sebelum terkenal dengan deretan produk ponselnya yang tahan banting, Nokia awalnya tidak menjual ponsel loh!
Iya benar, kamu tidak salah baca. Siapa sangka, nokia dulunya adalah perusahaan yang memproduksi produk kebutuhan rumah tangga. Setelah perjalanannya yang luar biasa panjang, akhirnya mereka sampao pada masa kejayaannya saat itu. Dari sebuah pabrik kecil yang berada di tepi sungai Finlandia, Nokia akhirnya berhasil menjadi salah satu perusahaan ponsel yang paling berpengaruh dalam sejarah industri telekomunikasi. Nah, untuk lebih detailnya, yuk kita simak bagaimana sih asal usul sejarah brand Nokia ini!
Dari pabrik bubur kertas hingga menjual tisu toilet
Sumber : SedotWCProfesional.com
Cerita ini bermula pada tahun 1865, tepat di tepi Tammerkoski di Finlandia, insinyur Fredrik Indestan berinisiatif mendirikan sebuah pabrik bubur kertas. Lalu untuk nama perusahaannya, ia terinspirasi dari Sungai Nokianvirta yang terletak di sekitar lokasi pabrik bubur kertas. Pada 10 tahun pertama sejak pabrik berdiri, mereka melakukan produksi inti berupa produksi kertas koran, pulp, dan hasil turunan kertas lainnya.
Seiring berjalannya waktu, Nokia mulai melakukan ekspansi menuju produksi khusus berbasis kertas, yang salah satunya berupa tisu toilet (acumenit, 2025). Tisu tersebut diberi nama Nokia Silk, sebuah produk sederhana berbentuk kertas coklat dan dilabeli dengan logo Nokia (Kompas, 2023. Hal ini menjadi tanda bahwa Nokia telah memiliki citra sebagai penghasil daily product jauh sebelum ia akhirnya berjualan ponsel.
Pada akhir abad ke-19, Nokia kembali harus berhadapan dengan sejumlah tantangan finansial. Hal ini mengakibatkan perusahaan Nokia saat itu harus menghadapi restrukturisasi oleh salah satu produsen karet bernama Finnish Rubber Works tepat pada tahun ke 1898. Namun, peristiwa akuisisi ini tidak menjadi titik terendah Nokia, justru akuisisi ini membuka jalan baru bagi perusahaan ini. Setelah restrukturisasi, Nokia terlibat dalam produk berbahan dasar karet seperti sepatu bot juga ban. Melihat adanya peluang yang muncul, di tahun 1967 Nokia kembali melakukan ekspansi, menjadi bagian dari perusahaan Cable Work. Dengan adanya kombinasi ketiga bisnis berupa kertas, karet, dan kabel, tentu hal ini membuat Nokia menjadi perusahaan yang multifungsi, menjual tisu toilet, sepatu bot, ban, hingga material kabel listrik. Adanya perubahan ini akhirnya membuat perusahaan Nokia terjun ke dunia berbasis elektrik yang tentunya akan menjadi langkah lanjut perusahaan di tahun-tahun berikutnya.
Transisi menuju dunia telekomunikasi & masa kejayaan
Sumber : Youtube.com
Adanya transisi strategi perusahaan Nokia dari perusahaan berbasis kertas, karet, dan kabel hingga akhirnya berpindah haluan ke bidang telekomunikasi tentu bukanlah hal yang mudah. Proses yang terjadi bertahap, berproses sedikit demi sedikit, diawali pada tahun 1960-an Nokia melakukan strategi merger yang kemudian didukung dengan adanya inovasi teknologi yang canggih di tahun - tahun berikutnya. Setelah melakukan akuisisi dengan perusahaan berbasis elektrik sebelumnya, Nokia juga ikut mendirikan bisnis Mobira Oy, hingga melakukan kerja sama dengan produsen TV Salora. Kedua hal tersebut menjadi jalan bagi perusahaan Nokia untuk dapat bertransisi menuju dunia telekomunikasi.
Lalu sampailah di tahun 1981, akhirnya usaha Nokia berhasil. Ia kemudian dilihat sebagai salah satu pemain dalam bidang telekomunikasi yang signifikan oleh Nordic Mobile Telephone (validnews, 2023). Perusahaan Nokia pertama kali memproduksi produk ponsel bernama Mobira Cityman 900, yang kemudian dipakai oleh salah satu tokoh penting. Hal tersebut menjadi momen emas, ketika Mikhail Gorbachev kemudian menegaskan bahwa ponsel merupakan alat penting diplomasi dan dapat menjadi simbol bagi kemajuan teknologi kala itu. Lalu kemudian di tahun 1990-an, Nokia berfokus pada produk ponsel GSM, ponsel dengan jaringan seluler 2G (MMC, 2025). Hal ini ditandai dengan adanya produk Nokia 1011 yang menjadi tanda awal dalam perjalanan produksi ponsel GSM Nokia. Produksi perangkat berikutnya pun sama, seperti adanya inovasi nada dering ponsel yang cukup terkenal pada masanya, ataupun inovasi Nokia Tune yang menjembatani perusahaan Nokia dalam memasuki pangsa pasar yang luas.
Adanya produksi model ponsel yang semakin laris membuat Nokia dinobatkan menjadi raja ponsel global. Hal tersebut terjadi tepat pada tahun 1998 - 2007, dimana Nokia berhasil meraih masa kejayaannya dengan berbagai keluaran produk legendaris berupa 3310, 6600, N-Series, E-Series, Communicator yang merupakan perpaduan kuat antara performa, kemudahan, serta daya tahan. Sebagai contoh, produk 3310 Nokia yang dirilis tepat pada tanggal 1 September 2000 terbukti terjual habis lebih dari 126 juta unit, dan saat itu menjadi salah satu tolak ukur ketahanan untuk produk ponsel. Kesuksesan tersebut didukung dengan adanya gabungan antara design tahan banting, keawetan baterai, juga jaringan disribusi yang solid dari produk Nokia.
Namun sayangnya, saat itu Nokia lengah dalam mengikuti perkembangan smartphone. Adanya keputusan Nokia dalam mempertahankan Symbian OS, yang masih sulit menghadapi kemajuan teknologi berupa layar sentuh dan ekosistem modern lainnya, sehingga membuat Nokia tertinggal jauh. Pada saat itu, perusahaan Apple sedang gencar-gencarnya, merilis produk iphone mereka dengan ekosistem modern yang lebih canggih. Akhirnya setelah mencoba mempertahankan, di tahun 2011, Stephen Elop, seorang memo internal CEO Nokia secara resmi mengakui krisis strategi yang mereka alami. Ia berkata, pilihan Nokia terbatas, bertahan di tempat atau beralih total.
Tidak dipungkiri, mereka pun telah melakukan beberapa upaya pemulihan, seperti melakukan kemitraan strategi dengan Microsoft agar Windows Phone dapat tercapai, namun hal tersebut tidak membuahkan hasil yang signifikan. Sehingga akhirnya tepat pada tahun 2014, Microsoft pun mengambil kuasa atas divisi perangkat keras Nokia yang senilai dengan $7,2 miliar. Hal tersebut juga menandakan berakhirnya era ponsel Nokia, yang pada akhirnya menjadi titik balik besar dalam sejarah perusahaan. Hal ini tentu menjadi pembelajaran bagi Nokia, adanya inovasi produk yang bagus tanpa diiringi dengan adaptasi ekosistem yang jelas dapat membuat perusahaan pincang dan dikalahkan dengan kompetitor yang lebih tanggap dengan adaptasi.
Bertahan, adaptasi, bangkit kembali
Sumber : Nokiapoweruser.com
Terjualnya divisi ponsel Nokia tidak menjadi akhir dari perjuangan, justru hal tersebut membuka kembali jalan baru. Nokia kembali berfokus dalam bidang infrastruktur jaringan dan solusi bagi operator telekomunikasi, seperti perangkat lunak, perangkat keras jaringan, dan layanan-layanan terkait. Adanya pemfokusan ini terbukti cukup menguntungkan Nokia dari sisi finansial, sebagai bisnis yang menggunakan sistem B2B, Nokia dapat meraih pendapatan per tahunnya yang cukup bombastis tanpa perlu menjual langsung produk ponsel mereka ke konsumen dengan jumlah nominal lebih dari $14 miliar.
Namun disisi lain, setelah adanya seluruh akuisisi dan pembelian unit, Nokia memutuskan untuk tetap mempertahankan slogan "eksperimen konsumen" melalui terciptanya divisi teknologi yang dikhususkan untuk mengeksplorasi produk lain, seperti kamera VR OZO serta tablet N1 yang dirilis di Tiongkok. Adapun strategi Nokia lainnya berupa akuisisi dengan Wuthings dari Prancis berupa perangkat kesehatan pintar (termometer, jam tangan kesehatan, smart scale). Hal tersebut membuat Nokia mulai memasuki perusahaan dengan kategori health tech dan Internet of Things, sebuah kategori yang penuh persaingan dan tantangan namun dinilai memiliki potensi tinggi bagi sebuah perusahaan (wired, 2016).
Dari sisi bisnis, Nokia bertransisi menjasi sebuah perusahaan induk yang mengelola beberapa unit bisnis, dari bisnis dengan infrastruktur besar hingga taruhan inovasi yang dapat menjadi peluang di masa yang akan datang. Sementara itu di tahun 2016, handset Nokia kembali menunjukkan sinarnya lewat HMD Global yang membuat Nokia saat itu memegang lisensi yang membuatnya dapat memproduksi feature phone dan ponsel 5G berlabel Nokia, salah satu cara agar brand Nokia tetap dapat hadir di pasar konsumen.
Kalau kalian dulu pernah gasi punya handphone nokia? ceritain dong cerita lucu kalian bersama produk Nokia saat itu di kolom komentar!
Sekian dulu cerita seru kita hari ini, sampai jumpa di artikel Funtechnet berikutnya! Tempatnya fun fact teknologi dan internet yang bikin kamu makin up-to-date! See youuu 🚀👋
mantap
BalasHapusmenarik
BalasHapusbaru tau bgt ternyata nokia dulunya jualan tisu
BalasHapuskeren banget bjir si nokia
BalasHapusoalahh ternyata dia ga bnr bnr cuman jualan hp, jualan kertas, ban, dll juga
BalasHapusapakah tisu toiletnya juga tahan banting kaya hp nya?? wkwkkw
BalasHapuspenasaran deh apa yang bikin produk mereka akhirnya tahan banting ya
BalasHapusbelum terungkap ni bahan apa yang dipakai nokia buat produksi dia
BalasHapuslucu sih kalo ditanya ban motor kamu apa? aku pake ban merek nokia wkwk
BalasHapusKalo hp nya tahan banting, ban nya tahan kempes ga ya
BalasHapusbaru tau gtu ternyata
BalasHapusternyata gtu yaa
BalasHapuspas banget lagi 3K, kertas, karet, kabel
BalasHapusDulu kalau kalah main game selalu banting hp mama
BalasHapus